A.
Pendahaluan
Pembelajaran
kuantum dikembangkan oleh Bobby dalam
Sa’ud (2008:125) yang beranggapan bahwa metode belajar ini sesuai dengan cara
kerja otak manusia dan cara belajar manusia pada umumnya. Dengan model
SuperCamp yang dikembangkan bersama kawan-kawannya pada awal tahun 1980 an,
prinsip-prinsip dan model pembelajaran kuantum menentukan bentuknya. Dalam
SuperCamp tersebut, kurikulum dikembangkan secara harmonis dan berisi kombinasi
dari tiga unsur yaitu: keterampilan akadermis (academic skills), prestasi atau tantangan fisik (physical Chsllenge), dan keterampilan
dalam hidup (life skills).
Pembelajaran berdasarkan pada landasan konteks yang menyenangkan dan situasi
penuh kegembiraan. Model pembelajaran kuantum dicetuskan oleh seorang pendidik
berkembangsaan Bulgaria Georgi Lozanov yang melkukan uji coba tentang sugesti
dan pengaruhnya terhadap hasil belajar, teorinya yang terkenal disebut suggestolog.. Teknik yang digunakan
untuk memberikan segesti positif dalam belajar diantaranya yaitu mendudukan
siswa secar nyaman, memasang musik di dalam kelas atau lapangan, meningkatkan
partisipasi siswa, menggunakan poster-poster dalam menyampaikan suatu
informasi, dan menyediakan guru-guru yang berdidekasi tinggi.
Menururt
Kaifa dalam Sa’ud (2008:126)
pembelajaran kuantum sebagai salah satu model, strategi, dan pendekatan
pembelajaran khususnya menyangkut keterampilan guru dalam merancang,
mengembangkan, mengelola istem pembelajaran sehingga guru mampu menciptakan
suasana pemebelajaran yang efektif, menggairahkan, dan memiliki keterampilan
hidup. Dengan demikian model pembelajaran kuantum ini bentuk inovasi pengubahan
bermacam-macam interaksi yang ada didalam dan disekitar momen belajar.
Interksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur belajar yang efektif yang
mempengaruhi kesuksesan siswa dalam belajar. Dari proses interaksi dilakukan
mengubah keampuan dan bakat interaksi siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat
bagi mereka sendiri dan bagi orang lain.
Pembelajaran
kuantum sebagai salah satu alternatif pembaharuan pembelajaran, menyajikan
petunjuk praktis dan spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang
efektif, bagaimana merancang pembelajaran, menyampaikan bahan pembelajaran, dan
bagaimana menyederhanakan proses belajar sehingga memudahkan belajar siswa.
Pembelajarn kuantum merupakan sebuah model yang menyajikan bentuk pembelajaran
sebagai suatu “orkestrasi” yang jika
dipiliah dari dua unsur pokok yaitu: konteks dan isi. Konteks secara umum akan
menjelaskan tentang lingkungan fisik dan lingkungan psikis. Sedangkan
konten/isi berkenaan dengan bagaimana isi pembelajaran dikemas untuk
disampaikan kepada siswa.
Menurut
Bobby dalam Sa’ud (2008:127) pembelajaran kuantum mengkonsep tentang “menata
pentas lingkungan belajar yang tepat”, maksudnya bagaimana upaya penataan
situasi lingkungan belajar yang optimal baik secara fisik maupun secara mental.
Dengan mengatur lingkungan belajar yang sedemikian rupa, para pelajar
diharapkan mendapat langkah pertama yang efektif untuk mengatur pengalaman
belajar. Lingkungan belajar terdiri lingkungan mikro dan lingkungan makro.
Lingkungan mikro adalah tempat tempat siswa melakukan proses belajar, bekerja
dan berkreasi. Bagaimana desain ruangan, penataan cahaya, musik pengiring yang
kesemuanya ini mempengaruhi siswa dalam menyerap, menerima, dan mengolah
informasi. Labih khusus lagi perhatian kepada penataan lingkungan formal.
Seperi meja, kursi, tempat khusus, dan tempat belajar yang teratur.
Lingkungan
makro adalah dunia luas, artinya siswa diminta untuk menciptakan kondisi ruang
belajar di masyarakat. Mereka diminta untuk memperluas lingkup pengaruh dan
kekuatan pribadi, berinteraksi sosial ke lingkungan masyarakat yang
diminatinya. Semakin siswa berinteraksi dengan lingkungan, semakin mahir
mengatasi situasi-situasi yang menantang dan semakin mudah mempelajari
informasi baru. Setiap siswa diminta berhubungan secara aktif dan mendapat
rangsangan masyarakat, agar mereka kelak mendapat pengalaman membangun
pegetahuan pribadi.
B.
Landasan
Pembelajaran Kuantum
Menurut
Sa’ud (2008:127) Istilah ‘Quantum” dipinjam dari dunia ilmu fisika yang berarti
interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Maksudnya dalam pengajaran
kuantum, pengubahan bermacam-macam interaksi yang terjadi dalam kegiatan
belajar. Interaksi-interaksi ini mengubah mereka kemampuan dan bakat alamiah
guru dan siswa menjadi cahaya yang bermanfaat bagi kemajuan merek dalam belajar secara efektif dan
efesien. Selain itu, adanya proses pengubahan balajar yang meriah dengan segala
nuansanya, penyertaan segala yang berkaitan, interaksi dan perbedaan yang
memaksimalkan moment belajar, fokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan
kelas, seluruhnya hal-hal yang melandasi pembelajaran kuantum.
Ada
dua konsep utama yang digunakan dalam pembelajaran kuantum dalam rangka
mewujudkan energi guru dan siswa menjadi cahaya belajar yaitu percepatan
belajar tradisionl, dan fasilitasi belajar yang berarti mempermudah belajar.
Percepatan belajar dan fasilitasi belajar akan mendukung asas utama yang
digunakan dalam pembelajaran kuantum yaitu: “Bawalah dunia mereka ke dunia kita
dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Asas utama pembelajaran kuantum
tersebut mengisyaratkan pentingnya seorang guru memasuki dunia atau kehidupan
anak sebagai langkah awal dalam melaksanakan sebuahpembelajaran. Memahami dunia
dan kehidupan anak, merupakan lisensi bagi para guru untuk memimpin, menuntun
dan memudahkan perjalan siswa dalam meraih hasil belajar yang optimal. Salah
satu cara yang bisa digunakan dalam hal ini misalkan mengaitkan apa yang
diajarkan dengan peristiwa-peristiwa, pikiran atau perasaan, tindakan yang
diperoleh siswa dalam kehidupan baik di rumah, di sekolah mupun di lingkungan
masyarakat. Setelah kaitan itu terbentuk, maka guru dapat memberikan pemahaman
tentang materi pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan, perkembangan,
dan minat bakat siswa.
Pemahaman
terhadap “hakikat” siswa menjadi lebih penting sebagai “jembatan” untuk
menghubungkan dan memasukkan “dunia kita’ kepada dunia mereka. Apabila seorang
guru telah memahami dunia siswa, maka siswa telah merasa diperlakukan sesuai
dengan tingkat perkembangan mereka, sehingga pembelajaran akan menjadi harmonis
seperti sebuah “orkestrasi” yang saling bertautan dan saling mengisi. Sebuah
pepatah mengatakan, ajarilah, tuntun, fasilitasi, dan bimbinglah anak didik
kalian, sesuai dengan tingkat kebutuhan dan daya pikirnya.
1.
Prinsip dan Strategi
Pembelajaran Kuantum
Menurut
Bobby dalam Sa’ud (2008:128) pembelajarn kuantum memiliki lima prinsip yaitu
sebagai berikut:
a.
Segalanya berbicara,
maksudnya bahwa seluruh lingkungan kelas hendaknya dirancang untuk dapat
membawa pesan belajar yang dapat diterima oleh siswa, ini berarti rancangan
kurikulum dan rancangan pembelajaran guru, informasi, bahasa tubuh, kata-kata,
tindakan, gerakan, dan seluruh kondisi lingkunngan haruslah dapat berbicara
membawa pesan-pesan belajar bagi siswa.
b.
Segalanya bertujuan,
maksudnya semua pengubahan pembelajaran tanpa terkecuali harus mempunyai
tujuan-tujuan yang jelas dan terkontrol. Sumber dan fasilitaas yang terlibat
dalam setiap pembelajaran pada prinsipnya untuk membantu perubahan prilaku
kognitif, afektif dan psikomotor.
c.
Pengalaman sebelum
pemberian nama, maksunya sebelum siswa belajar memberi nama (mendefinisikan,
mengkonseptualisasi, membedakan, mengategorikan) hendaknya telah memiliki
pengalaman informsi yang terkait dengan upaya pemberian nama tersebut.
d.
Mengakui setiap usaha,
maksudnya semua usaha belajar yang telah dilakukan siswa harus memperoleh
pengakuan guru dan siswa lainnya. Pengakuan ini penting agar siswa selalu
berani melangkah ke bagian berikutnya dalam pembelajaran.
e.
Merayakan keberhasilan,
maksudnya setiap usaha dan hasil yang diperoleh alam pembelajaran pantas
dirayakan. Perayaan ini diharapkan memberi umpan balik dan motivasi untuk kemajuan
peningkatan hasil belajar berikutnya.
Selanjutnya
Bobby dalam Sa’ud (2008:129), mengembangkan strategi pembelajaran kuantum
melalui istilah TANDUR, yaitu:
a.
Tumbuhkan, yaitu dengan
meberikan apersepsi yang cukup sehingga sejak awal kegiatan siswa telah
termotivasi untuk belajar dan memahami Apa Manfaatnya Bagiku (AMBAK).
b.
Alami, berikan
pengalaman nyata kepada setiap siswa untuk mencoba.
c.
Namal, sediakan kata
kunci, konsep, model, rumus, strategi, dan metode lainnya.
d.
Demonstrasikan,
sediakan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuannya.
e.
Ulangi, beri kesempatan
untuk mengulangi apa yang telah dipelajarinya, sehingga setiap siswa merasakan
langsung dimana kesulitan akhirnya datang kesuksesan, kami bisa bahwa kami
memang bisa.
f.
Rayakan, dimaksudkan sebagai
respon pengakuan yang porposional.
2.
Model Pembelajaran
Kuantum
Menurut Howard dalam Sa’ud (2008:130) model
pembelajaran kuantum identik dengan sebuah simponi dan pertunjukkan musik.
Maksudnya pembelajaran kuantum, memberdayakan seluruh potensi dan lingkungan
belajar yang ada, sehinggaa proses belajar menjadi suatu yang menyenangkan dan
bukan sebagai sesuatu yang memberatkan. Untuk dapat mengarah kepada yang
dimaksud, ada beberapa langkah-langkah yang harus dilakukan yaitu: 1)
optimalkan minat pada diri, 2) bertanggung jawab pada diri sendiri, sehingga
anda akan memulai mengupayakan segalanya terlaksana, dan 3) hargailah segala
tugas yang telah selesai.
Tujuan
pokok pembelajaran kuantum yaitu meningkatkan partisipasi siswa, melalui
pengubahan keadaan, meningkatkan motivasi dan minat belajar,, meningkatkan daya
ingat dan meningkatkan rasa kebersamaan, meningkatkan daya dengar, dan
meningkatkan kehalusan prilaku. Berdasarkan prinsip dan asas landasan
pembelajaran kuantum, guru harus mampu mengorkestrasi kesuksesan belajar siswa.
Dalam pembelajaran kuantum, guru itu tidak semata-mata menerjemahkan kurikulum
ke dalam strateegi, metode, teknik, dan langkah-langkah pembelajaran, melainkan
termasuk juga menerjemahkan kebutuhan nyata siswa. Untuk hal itu, dalam
pembelajaran kuantum, guru harus memiliki kemampuan untuk mengorkestrasi
konteks dan kontens. Konteksberkaitan dengan lingkungan pembelajaran, sedangkan
konten berkaitan dengan isi pembelajaran.
3.
Mengorkestrasi
kesuksesan belajar melalui lingkungan pembelajaran (konteks)
Menurut
Sa’ud (2008:130) dimensi konteks dalam pembelajaran kuantum dapat dikelompokka
menjadi empat bagian, yaitu sebagai berikut:
a.
Suasana belajar yang
menggairahkan
Guru
harus mampu menciptakan suasana pembelajaran yang memberdayakan siswa. Untuk
menciptakan suasana yang dinamis dan menggairahkan dalam belajar, guru dan
fasilitator perlu memahami dan dapat menerapkan aspek-aspek pembelajaran
kuantum sebagai berikut:
1) Kekuatan
niat dan berpandangan positif
2) Menjalin
rasa dan saling pengertian
3) Keriangan
dan ketakjuban
4) Mau
mengambil resiko
5) Menumbuhkan
rasa saling memiliki
6) Menunjukkan
rasa saling memiliki
7) Menunjukkan
keteladanan
Penelitian
menunjukkan, bahwa suasana kelas adalah penentu psikologis utama yang
mempengaruhi kegiatan belajar mengajar pada dasarnya kelas adalah arena belajar
yang dipengaruhi oleh emosi, itu sebabnya disarankan agar guru berupaya
menciptakan suasana kelas melalui keenam aspek diatas. Niat kuat seorang guru
dalam mengajar ditentukan oleh pandangan positif guru dan citranya tentang
kemampuan siswa. Keyakinan guru tentang potensi dan kemampuan semua siswa untuk
belajar dan berprestasi akan menentukan keberhasilan siswa itu sendiri. Karena
itu, aspek keteladanan mental guru berdampak besar terhadap iklim belajar dan
pemikiran belajar, karena siswa memiliki perasaan dan sikap yang turut
mempengaruhi proses belajar. Selain itu, guru juga dituntut mengetahui karateristik
emosional siswa, karena dengan memahami karateristik emosional siswa dapat
membantu mereka mempercepat proses belajar. Guru juga harus memiliki kemampuan
untuk memotivasi siswa, mengetahui dan mengahargai kemampuan yang dimiliki
siswa, dan melakukan penghargaan terhadap setiap upaya yang telah dilakukan
oleh siswa. Penghargaan yang dimaksud, bukan hanya berupa material, tetapi
dalam bentuk lain seperti pujian, menepuk pundak dan sebagainya. Guru perlu
memprlakukan siswa sebagai manusia yang sederajat, mengetahui pikiran,
perasaan, mengetahui apa yang menghambat memperoleh hal-hal yang mereka
inginkan, berbicara dengan jujur dan menikmati kesenangan bersama mereka.
a. Landasan
yang kukuh
Setelah
menciptakan suasana yang dapat mendorong siswa untuk belajar, langkah
selanjutnya yang mesti dilakukan adalah menciptakan landasan yang kukug.
Menegakkan landasan yang kukuh dalam pembelajaran kuntum dengan cara:
mengkomunikasikan tujuan pembelajaran, mengukuhkan prinsip-prinsip keunggulan,
meyakini kemampuan siswa, kesepakatan, kebijakan, prosedur dan peraturan, serta
menjaga komunitas belajar tetap tumbuh dan berjalan.
Menurut
Deporter dalam Sa’ud (2008:132) penetapan landasan dapat dimulai dari penetapan
tujuan. Hendaknya dalam komunitas belajar antar pengajar dan pembelajar
memiliki tujuan yang sama. Tujuan siswa adalah mengembangkan kecakapan dalam
mata pelajaran, menjadi pelajar yang baik dan berinteraksi sebagai anggota
komunitas dari masyarakat belajar, dan mengembangkan kemampuan lain yang
dianggap penting. Sebaliknya tujuan dari pengajar adalah menciptakan agar siswa
belajar yang cakap dalam mata pelajaran yang disampaikan, lebih baik dan mampu
berinteraksi dalam masyarakat belajar. Dengan kesamaan tujuan, maka upaya yang
dilakukann akan memiliki kesamaan sehingga ada kesesuaian antara apa yang harus
dilakukan siswa dengan apa yang diinginkan guru. Kedua hal ini akan menjadi
prinsip yang dikembangkan dalam komunitas belajar. Pembelajaran kuantum
memiliki delapan kunci sukses yang dikembangkan, yaitu integritas, kegagalan
sebagai kunci kesuksesan, bicara dengan niat yang baik, hidup saat ini,
komitmen, tanggung jawab, sikap luwes dan keseimbangan.
Landasan
lain yang dijelaskan adalah keyakinan terhadap kemampuan diri dan kemampuan
siswa. Keyakinan atas kemampuan mengajar dan kemampuan siswa belajar akan
menimbulkan hal-hal yang menakjubkan. Setiap kesepakatan, kebijakan, prosedur,
dan peeraturan harus dilaksanakan bersama untuk memenuhi kebutuhan otak tentang
struktur positif yang terarah. Berdasarkan landasan diatas setiap guru
diharapkan dapat menjaga komunitas belajar dan membantu siswa yang mengaitkan
pelajaran dengan gambaran masa depan mereka.
b. Lingkungan
yang mendukung
Lingkungan
kelas akan berpengaruh terhadap kemampuan siswa dalam memusatkan perhatian dan
menyerap informasi sebanyak-banyaknya. Dengan demikian, dalam pembelajaran
kuantum guru memiliki kewajiban menata lingkungan yang dapat mendukung situasi
belajar dengan cara: mengorganisasikan dan memanfaatkan lingkungan sekitar,
menggunakan alat bantu yang mewakili satu gagasan, pengaturan formasi siswa,
pemutaran musik yang sesuai dengan kondisi belajar.
Penggunaan
poster dalam lingkungan kelas dapat menampilkan materi pelajaran yang visual.
Poster afirmasi dapat menguatkan dialog internal siswa. Alat bantu belajar
dapat manhidupkan gagasan abstrak dan memberikan pengalaman-pengalaman
langsung. Meja belajar atau bangku dan kursi harus dapat diubah-ubah agar dapat
berfokus pada tugas yang dihadapi. Musik membuka kunci keadaan belajar yang
optimal dan membantu menciptakan asosiasi. Pengorkestrasian unsur-unsur dalam
lingkungan sangat lebih baik.
c. Perancangan
pengajaran yang dinamis
Guru
dapat memasuki dunia siswa dalam proses pembelajaran melalui perancangan
pembelajaran. Disini diperlukan kemampuan guru memasuki dunia siswa baik
sebelum maupun saat berlangsungnya pembelajaran dapat membawa sukses
pembelajaran, karena membantu guru menyelesaikan pembelajaran lebih cepat,
lebih melekat dan lebih bermakna dengan hasil belajar yang memuaskan.
Pembelajaran kuantum memberikan beberapa kiat tentang cara menjalin mitra
dengan siswa, sehingga guru merancang pembelajaran bermula kelompk besar,
dilanjutkan dengan belajar dalam kelompok kecil, diakhiri dengan belajar secara
perorangan. Berdasarkan strategi diatas, maka kiat kerangkan perancangan
pembelajaran kuantum dilaksanakan sebagai perpaduan yang singakat dengan TANDUR
yakni Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan.
4.
Mengorkestrasikan
Kesuksesan Belajar Melalui Konten/Isi
Menurut
Sa’ud (2008:134) dimensi konten/isi dalam pembelajaran kuantum dikelompokkan
menjadi empat bagian, dimana dua bagian menkaji kemampuan guru dalam melakukan
presentasi dan fasilitasi, dua bagian lainnya memberikan tips tentang kiat-kiat
keterampilan belajar siswa dan keterampilan hidup.
a.
Mengorkestrasikan
presentasi prima
Kemampuan
guru mengorkestrasikan presentasi prima merupakan kemampuan berkomunikasi
dengan menekankan interaksi sesuai dengan rancangan pembelajaran yang
ditetapkan. Guru mengajarkan keterampilan hidup di tengah-tengah keterampilan
akademis, mengembangkan aspek fisik, mental, dan spiritual para siswa dengan
memperhatikan kualitas interaksi antar siswa, antar siswa dengan guru, dan
antar siswa dengan kurikulum. Dalam berkomunikasi dengan siswa, guru menyesuaikan
pesan atau materi pelajaran dengan modalitas utama para siswanya, karena itu
guru harus menguasai prinsip-prinsip komunikasi secara visual, auditorial, dan
kinestik yang diyakini sebagai jalan menuju kesuksesan belajar. Ketika guru
mengajar, memberikan pengarahan, menata konteks, memberikan umpan balik,
hendaknya dilaksanakan empat prinsip komunikasi, yaitu: memunculkan kesan yang
diinginkan, mengarahkan perhatian, bersifat mengajak dan tepat sasaran.
Memunculkan kesan adalah hal penting dalam belajar karena membantu otak membuat
citra tentang apa yang dipelajari melalui asosiasi. Mengarahkan fokus perhatian
juga penting karena dalam komunikasi otak memiliki kemampuan menyerap banyak
informasi dalam setiap waktu dari pesan-pesan yang diberikan guru. Jika guru
salah mengarahkan perhatian, maka informasi penting dapat menjadi tak
tersadari. Bersifat mangajak pada prinsipnya berbeda dengan prinsip perintah
yang menunjukkan dominasi guru. Ajakan itu lebih menimbulkan asosiasi positif
tentang kebersamaan dan kerjasama secara kolaborasi untuk menghindari asosiasi
negatif terhadap dinamikiaguru. Namun ajakan tersebut harus bersifat spesifik
ditujukan langsung inti tujuan pembelajaran. Dalam berkomunikasi non verba sama
ampuhnya dengan komunikasi verbal. Komunikasi non verbal yang harus
diperhatikan guru adalah kontak mata, ekspresi wajah, nada suara, gerak tubuh,
dan sosok (postur).
b.
Megorkestrasikan
fasilitas yang elegan
Mengorkestrasikan
fasilitas berarti memudahkan interaksi siswa dengan kurikulum. Ini berarti juga
memudahkan partisipasi siswa dalam aktifitas belajar sesuai dengan yang
diinginkan dengan tingkat ketertarikan, minat, fokus, dan partisipasi yang
optimal. Pembelajaran kuantum menawarkan beberapa strategi untuk melakukan
fasilitasi yaitu: menerapkan prinsip KEG (Know
it, Explain it, Get it and Give feedback), model kesuksesan dari sudut
pandang fasilitator, membaca pendengar, mempengaruhi melalui tindakan,
menciptakan strategi berfikir, dan tanya jawab belajar. Fasilitas KEG sebagai
strategi fasilitasi bertujuan untuk mempertahankan siswa belajar tetap pada
jalur dengan minat yang tinggi. Strategi ini dilakukan dengan: Pertama,
mengetahui visi pembelajaran dan bentuk prilaku yang diharapkan dalam belajar
dengan jelas. Kedua, jelaskan hasilnya melalui komunikasi. Ketiga, dapatkan
hasilnya pada setiap segmen belajar dan berikan feedback yang memuaskan.
Fasilitas
harus mampu mneghantarkan siswa bergerak dari zona nyaman ke zona kuranng
nyaman dengan siswa tetap nayaman, pembelajaran kuantum ini menhendaki: Pertama,
guru harus memberikan gambaran keseluruhan pelajaran yang memungkinkan siswa
mengaitkan dengan pengalaman masa lalu dan prediksi masa depan, tumbuhkan
kegairahan siswa memalui rasa ingin tahunya. Kedua, berilah pengenalan pertama
pambelajaran melalui penggunaan multi sensori untuk merangsang multi kecerdasan
siswa. Ketiga, potonglah informasi ke dalam segmen-segmen yang mudah
dipelajaari untuk setiap segmen. Jangan lupa untuk menerapakan strategi belajar
dari kelompok besar ke kelompok kecil dan diakhiri dengan belajar perorangan.
Fasilitas dengan membeca pendengar, berarti guru membaca keadaan siswa belajar
untuk tetap mempertahankan konsentrasi belajar dengan minat optimal. Fasilitas
mempengaruhi prilaku melalui tindakan dimaksudkan untuk menangkap perhatian
siswa dalam belajar dan mengubah arahnya ke tugas atau tujuan belajar
selanjutnya. Untuk ini beberapa tindakan verbal maupun nonverbal dapat
dilakukan. Fasilitas menciptakan strategi berfikir bertujuan membantu siswa
mempermudah belajar dilakukan dengan cara memberikan ragam pertanyaan kepada
siswa dengan maksud memperoleh respon, memberi dorongan dan menghargai serta
mengakui partisipasi siswa dalam melatih keterampilan berfikir siswa.
c.
Mengorkestrasikan
keterampilan belajar dan keterampilan hidup
Dalam
pemeblajaran kuantum, keterampilan belajar dapat membantu siswa mencapai tujuan
belajar dengan efisien dan cepat, denga tetap mempertahankan minat belajar,
karena belajar berlangsung secara terfokus tetapi santai. Dalam membantu siswa
siswa mengorkestrasikan keterampilan belajar, pembelajaran kuantum menekankan
empat strategi berikut: Memanfaatkan gaya belajar, keadaan prima untuk belajar,
mengorganisasikan informasi, dan memunculakan potensi siswa. Belajar di kelas
perlu memnfaatkan gaya belajar masing-masing siswa, yakni gaya belajar visual,
auditorial, kinetik. Untuk mengetahui gaya belajar masing-masing siswa, guru
dapat memberikan tes gaya balajar. Seterlah mengetahui gaya belajar
masing-masing, guru dapat menyesuaikan rancangan pembelajaran denga gaya
belajar tesebut. Gaya belajar visual akan berhasil dalam belajar jika siswa
banyak membuat simbol dan gambar dalam catatannya. Siswa dengan gaya belajar
visual dapat mengkap isi pelajaran dengan baik melalui membaca cepat secara
keseluruhan yang membantunya mendapatkan gambaran umum. Siswa dengan gaya
belajar auditorial dapat belajar melalui mendengarkan kuliah, contoh-contoh
model, ceramah, ceritera dan mengualng informasi. Biasanya siswa belajar
auditorial menyenangi belajar dengan mendengarkan musik karena itu, mereka
harus belajar kedalam bentu lagu yang sudah mereka kenal. Siswa kinestik
menyukai proyek terapan, praktik laboratorium, demonstrasi, simulasi dan
bermain peran.
Belajar
yang optimal adalah belajar dalam keadaan prima. Kondisi prima ini dapat
terjadi ketika ada kesesuaian antar gerak, tumbuh, pikiran, dan perasaan dalam
kondisi terfokus dan menyenangkan. Karena itu pembelajaran kuantum mneyarankan
srategi SLANT dan keadaan alpha kepada siswa dalam mengikuti proses
pembelajaran diatas. Strategi SLANT merupakan singkatan dari Sit Up In The Chair (duduk tegak dikursi), Lean Forward (condong ke depan), Ask Question (bertanya), Node
their hads (menganggupan pelaku), Talk
to Their Teacher (berbicara dengan guru) tubuh tegak agak condong ke depan
mengindikasikan tubuh dalam keadaan semangat belajar, sedangkan unsur ANT
mengindikasikan partisioasi aktif siswa dalam belajar yang dapat memberi
simulasi kepada guru untuk lebih bergairah mengajar. Adanya upaya take and give antar guru dan siswa akan
akan meningkatkan interaksi belajar yang dapat mengubah energi belajar lebih
berbahaya. Belajar di sekolah bukan semata-mata sebagai kegiatan belajar secara
akademik. Siswa perlu mempelajari hidup (life
skill), dan keterampilan sosial (social
skills).
Sumber
:
Sa’ud, Udin Syaefudin. 2008. Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar