Welcome To My Blog...

Sabtu, 24 Januari 2015

PEMBELAJARAN CTL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)



PEMBELAJARAN CTL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)


PENDAHULUAN
Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.
CTL merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran berbasis kompetensi.
Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning), yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transfering diharapkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara maksimal. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi.

Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah  
"konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidu-pan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelaaran efektif, yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment)".



LANGKAH-LANGKAH CTL
CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam CTL adalah sebagai berikut:
  1. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
  2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
  3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
  4. Ciptakan masyarakat belajar.
  5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
  6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
  7. Lakukan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) dengan berbagai cara.

Karakteristik Pembelajaran CTL
  1. Kerjasama.
  2. Saling menunjang.
  3. Menyenangkan, tidak membosankan.
  4. Belajar dengan bergairah.
  5. Pembelajaran terintegrasi.
  6. Menggunakan berbagai sumber.
  7. Siswa aktif.
  8. Sharing dengan teman.
  9. Siswa kritis guru kreatif.
  10. Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain.
  11. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain.

Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran, lang-kah-langkah pembelajaran, dan authentic assessment-nya.
Dalam konteks tersebut, program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya.
Beberapa komponen utama dalam pembelajaran Kontekstual menurut Johnson (2000: 65), yang dapat di uraikan sebagai berikut:
1. Melakukan hubungan yang bermakna (Making Meaningful Connections)  
Keterkaitan yang mengarah pada makna adalah jantung dari pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Ketika siswa dapat mengkaitkan isi dari mata pelajaran akademik, ilmu pengetahuan alam. Atau sejarah dengan pengalamannya mereka sendiri, mereka menemukan makna, dan makna memberi mereka alasan untuk belajar. Mengkaitkan pembelajaran dengan kehidupan seseorang membuat proses belajar menjadi hidup dan keterkaitan inilah inti dari CTL.
2.  Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti (Doing Significant Works)
Model pembelajaran ini menekankan bahwa semua proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas harus punya arti bagi siswa sehingga mereka dapat mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan siswa.

3. Belajar yang diatur sendiri (Self-Regulated Learning)
Pembelajaran yang diatur sendiri, merupakan pembelajaran yang aktif, mandiri, melibatkan kegiatan menghubungkan masalah ilmu dengan kehidupan sehari-hari dengan cara-cara yang berarti bagi siswa. Pembelajaran yang diatur siswa sendiri, memberi kebebasan kepada siswa menggunakan gaya belajarnya sendiri.
4. Bekerjasama (collaborating) Siswa dapat bekerja sama.
Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi.
5.  Berpikir kritis dan kreatif (Critical dan Creative Thinking)
Pembelajaran kontekstual membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir tahap tinggi, nerpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah menarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian, ketajaman pemahaman dalam mengembangkan sesuatu.
1.    Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (Nuturing The Individual)
Dalam pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya mengembangkan kemampuan-kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga aspek-aspek kepribadian: integritas pribadi, sikap, minat, tanggung jawab, disiplin, motif berprestasi, dsb. Guru dalam pembelajaran kontekstual juga berperan sebagai konselor, dan mentor. Tugas dan kegiatan yang akan dilakukan siswa harus sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuannya.
2.    Mencapai standar yang tinggi (Reaching High Standards)
Pembelajaran kontekstual diarahkan agar siswa berkembang secara optimal, mencapai keunggulan (excellent). Tiap siswa bisa mencapai keunggulan, asalkan sia dibantu oleh gurunya dalam menemukan potensi dan kekuatannya.
3.    Menggunakan Penilaian yang otentik (Using Authentic Assessment)
Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi dan keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan tertentu. Penilaian autentik merupakan antitesis dari ujian stanar, penilaian autentik memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka pelajari.

Sumber :
  1. Pustaka Depdiknas. Direktorat Pembinaan SMA. 2009. Pengembangan Pembelajaran Yang Efektif. Bahan Bimbingan Teknis KTSP. Jakarta. Ibrahim R, Syaodih S Nana. 2003.
  2. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
  3. Sudjana, Nana. 1989. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
  4. Nanang Sugiandi. Pembelajaran CTL. Dalam situs: http://tlc-learningcentre.blogspot.com/2013/06/pembelajaran-ctl-contextual-teaching.html


PEMBELAJARAN KUANTUM




A.           Pendahaluan
Pembelajaran kuantum dikembangkan oleh Bobby  dalam Sa’ud (2008:125) yang beranggapan bahwa metode belajar ini sesuai dengan cara kerja otak manusia dan cara belajar manusia pada umumnya. Dengan model SuperCamp yang dikembangkan bersama kawan-kawannya pada awal tahun 1980 an, prinsip-prinsip dan model pembelajaran kuantum menentukan bentuknya. Dalam SuperCamp tersebut, kurikulum dikembangkan secara harmonis dan berisi kombinasi dari tiga unsur yaitu: keterampilan akadermis (academic skills), prestasi atau tantangan fisik (physical Chsllenge), dan keterampilan dalam hidup (life skills). Pembelajaran berdasarkan pada landasan konteks yang menyenangkan dan situasi penuh kegembiraan. Model pembelajaran kuantum dicetuskan oleh seorang pendidik berkembangsaan Bulgaria Georgi Lozanov yang melkukan uji coba tentang sugesti dan pengaruhnya terhadap hasil belajar, teorinya yang terkenal disebut suggestolog.. Teknik yang digunakan untuk memberikan segesti positif dalam belajar diantaranya yaitu mendudukan siswa secar nyaman, memasang musik di dalam kelas atau lapangan, meningkatkan partisipasi siswa, menggunakan poster-poster dalam menyampaikan suatu informasi, dan menyediakan guru-guru yang berdidekasi tinggi.
Menururt Kaifa dalam Sa’ud (2008:126)  pembelajaran kuantum sebagai salah satu model, strategi, dan pendekatan pembelajaran khususnya menyangkut keterampilan guru dalam merancang, mengembangkan, mengelola istem pembelajaran sehingga guru mampu menciptakan suasana pemebelajaran yang efektif, menggairahkan, dan memiliki keterampilan hidup. Dengan demikian model pembelajaran kuantum ini bentuk inovasi pengubahan bermacam-macam interaksi yang ada didalam dan disekitar momen belajar. Interksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur belajar yang efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa dalam belajar. Dari proses interaksi dilakukan mengubah keampuan dan bakat interaksi siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain.
Pembelajaran kuantum sebagai salah satu alternatif pembaharuan pembelajaran, menyajikan petunjuk praktis dan spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, bagaimana merancang pembelajaran, menyampaikan bahan pembelajaran, dan bagaimana menyederhanakan proses belajar sehingga memudahkan belajar siswa. Pembelajarn kuantum merupakan sebuah model yang menyajikan bentuk pembelajaran sebagai suatu “orkestrasi” yang  jika dipiliah dari dua unsur pokok yaitu: konteks dan isi. Konteks secara umum akan menjelaskan tentang lingkungan fisik dan lingkungan psikis. Sedangkan konten/isi berkenaan dengan bagaimana isi pembelajaran dikemas untuk disampaikan kepada siswa.
Menurut Bobby dalam Sa’ud (2008:127) pembelajaran kuantum mengkonsep tentang “menata pentas lingkungan belajar yang tepat”, maksudnya bagaimana upaya penataan situasi lingkungan belajar yang optimal baik secara fisik maupun secara mental. Dengan mengatur lingkungan belajar yang sedemikian rupa, para pelajar diharapkan mendapat langkah pertama yang efektif untuk mengatur pengalaman belajar. Lingkungan belajar terdiri lingkungan mikro dan lingkungan makro. Lingkungan mikro adalah tempat tempat siswa melakukan proses belajar, bekerja dan berkreasi. Bagaimana desain ruangan, penataan cahaya, musik pengiring yang kesemuanya ini mempengaruhi siswa dalam menyerap, menerima, dan mengolah informasi. Labih khusus lagi perhatian kepada penataan lingkungan formal. Seperi meja, kursi, tempat khusus, dan tempat belajar yang teratur.
Lingkungan makro adalah dunia luas, artinya siswa diminta untuk menciptakan kondisi ruang belajar di masyarakat. Mereka diminta untuk memperluas lingkup pengaruh dan kekuatan pribadi, berinteraksi sosial ke lingkungan masyarakat yang diminatinya. Semakin siswa berinteraksi dengan lingkungan, semakin mahir mengatasi situasi-situasi yang menantang dan semakin mudah mempelajari informasi baru. Setiap siswa diminta berhubungan secara aktif dan mendapat rangsangan masyarakat, agar mereka kelak mendapat pengalaman membangun pegetahuan pribadi.

B.            Landasan Pembelajaran Kuantum
Menurut Sa’ud (2008:127) Istilah ‘Quantum” dipinjam dari dunia ilmu fisika yang berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Maksudnya dalam pengajaran kuantum, pengubahan bermacam-macam interaksi yang terjadi dalam kegiatan belajar. Interaksi-interaksi ini mengubah mereka kemampuan dan bakat alamiah guru dan siswa menjadi cahaya yang bermanfaat bagi kemajuan  merek dalam belajar secara efektif dan efesien. Selain itu, adanya proses pengubahan balajar yang meriah dengan segala nuansanya, penyertaan segala yang berkaitan, interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan moment belajar, fokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas, seluruhnya hal-hal yang melandasi pembelajaran kuantum.
Ada dua konsep utama yang digunakan dalam pembelajaran kuantum dalam rangka mewujudkan energi guru dan siswa menjadi cahaya belajar yaitu percepatan belajar tradisionl, dan fasilitasi belajar yang berarti mempermudah belajar. Percepatan belajar dan fasilitasi belajar akan mendukung asas utama yang digunakan dalam pembelajaran kuantum yaitu: “Bawalah dunia mereka ke dunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Asas utama pembelajaran kuantum tersebut mengisyaratkan pentingnya seorang guru memasuki dunia atau kehidupan anak sebagai langkah awal dalam melaksanakan sebuahpembelajaran. Memahami dunia dan kehidupan anak, merupakan lisensi bagi para guru untuk memimpin, menuntun dan memudahkan perjalan siswa dalam meraih hasil belajar yang optimal. Salah satu cara yang bisa digunakan dalam hal ini misalkan mengaitkan apa yang diajarkan dengan peristiwa-peristiwa, pikiran atau perasaan, tindakan yang diperoleh siswa dalam kehidupan baik di rumah, di sekolah mupun di lingkungan masyarakat. Setelah kaitan itu terbentuk, maka guru dapat memberikan pemahaman tentang materi pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan, perkembangan, dan minat bakat siswa.
Pemahaman terhadap “hakikat” siswa menjadi lebih penting sebagai “jembatan” untuk menghubungkan dan memasukkan “dunia kita’ kepada dunia mereka. Apabila seorang guru telah memahami dunia siswa, maka siswa telah merasa diperlakukan sesuai dengan tingkat perkembangan mereka, sehingga pembelajaran akan menjadi harmonis seperti sebuah “orkestrasi” yang saling bertautan dan saling mengisi. Sebuah pepatah mengatakan, ajarilah, tuntun, fasilitasi, dan bimbinglah anak didik kalian, sesuai dengan tingkat kebutuhan dan daya pikirnya.
1.             Prinsip dan Strategi Pembelajaran Kuantum
Menurut Bobby dalam Sa’ud (2008:128) pembelajarn kuantum memiliki lima prinsip yaitu sebagai berikut:
a.             Segalanya berbicara, maksudnya bahwa seluruh lingkungan kelas hendaknya dirancang untuk dapat membawa pesan belajar yang dapat diterima oleh siswa, ini berarti rancangan kurikulum dan rancangan pembelajaran guru, informasi, bahasa tubuh, kata-kata, tindakan, gerakan, dan seluruh kondisi lingkunngan haruslah dapat berbicara membawa pesan-pesan belajar bagi siswa.
b.             Segalanya bertujuan, maksudnya semua pengubahan pembelajaran tanpa terkecuali harus mempunyai tujuan-tujuan yang jelas dan terkontrol. Sumber dan fasilitaas yang terlibat dalam setiap pembelajaran pada prinsipnya untuk membantu perubahan prilaku kognitif, afektif dan psikomotor.
c.             Pengalaman sebelum pemberian nama, maksunya sebelum siswa belajar memberi nama (mendefinisikan, mengkonseptualisasi, membedakan, mengategorikan) hendaknya telah memiliki pengalaman informsi yang terkait dengan upaya pemberian nama tersebut.
d.            Mengakui setiap usaha, maksudnya semua usaha belajar yang telah dilakukan siswa harus memperoleh pengakuan guru dan siswa lainnya. Pengakuan ini penting agar siswa selalu berani melangkah ke bagian berikutnya dalam pembelajaran.
e.             Merayakan keberhasilan, maksudnya setiap usaha dan hasil yang diperoleh alam pembelajaran pantas dirayakan. Perayaan ini diharapkan memberi umpan balik dan motivasi untuk kemajuan peningkatan hasil belajar berikutnya.

Selanjutnya Bobby dalam Sa’ud (2008:129), mengembangkan strategi pembelajaran kuantum melalui istilah TANDUR, yaitu:
a.             Tumbuhkan, yaitu dengan meberikan apersepsi yang cukup sehingga sejak awal kegiatan siswa telah termotivasi untuk belajar dan memahami Apa Manfaatnya Bagiku (AMBAK).
b.             Alami, berikan pengalaman nyata kepada setiap siswa untuk mencoba.
c.             Namal, sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi, dan metode lainnya.
d.            Demonstrasikan, sediakan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuannya.
e.             Ulangi, beri kesempatan untuk mengulangi apa yang telah dipelajarinya, sehingga setiap siswa merasakan langsung dimana kesulitan akhirnya datang kesuksesan, kami bisa bahwa kami memang bisa.
f.              Rayakan, dimaksudkan sebagai respon pengakuan yang porposional.





2.             Model Pembelajaran Kuantum
Menurut  Howard dalam Sa’ud (2008:130) model pembelajaran kuantum identik dengan sebuah simponi dan pertunjukkan musik. Maksudnya pembelajaran kuantum, memberdayakan seluruh potensi dan lingkungan belajar yang ada, sehinggaa proses belajar menjadi suatu yang menyenangkan dan bukan sebagai sesuatu yang memberatkan. Untuk dapat mengarah kepada yang dimaksud, ada beberapa langkah-langkah yang harus dilakukan yaitu: 1) optimalkan minat pada diri, 2) bertanggung jawab pada diri sendiri, sehingga anda akan memulai mengupayakan segalanya terlaksana, dan 3) hargailah segala tugas yang telah selesai.
Tujuan pokok pembelajaran kuantum yaitu meningkatkan partisipasi siswa, melalui pengubahan keadaan, meningkatkan motivasi dan minat belajar,, meningkatkan daya ingat dan meningkatkan rasa kebersamaan, meningkatkan daya dengar, dan meningkatkan kehalusan prilaku. Berdasarkan prinsip dan asas landasan pembelajaran kuantum, guru harus mampu mengorkestrasi kesuksesan belajar siswa. Dalam pembelajaran kuantum, guru itu tidak semata-mata menerjemahkan kurikulum ke dalam strateegi, metode, teknik, dan langkah-langkah pembelajaran, melainkan termasuk juga menerjemahkan kebutuhan nyata siswa. Untuk hal itu, dalam pembelajaran kuantum, guru harus memiliki kemampuan untuk mengorkestrasi konteks dan kontens. Konteksberkaitan dengan lingkungan pembelajaran, sedangkan konten berkaitan dengan isi pembelajaran.






3.             Mengorkestrasi kesuksesan belajar melalui lingkungan pembelajaran (konteks)
Menurut Sa’ud (2008:130) dimensi konteks dalam pembelajaran kuantum dapat dikelompokka menjadi empat bagian, yaitu sebagai berikut:
a.             Suasana belajar yang menggairahkan
Guru harus mampu menciptakan suasana pembelajaran yang memberdayakan siswa. Untuk menciptakan suasana yang dinamis dan menggairahkan dalam belajar, guru dan fasilitator perlu memahami dan dapat menerapkan aspek-aspek pembelajaran kuantum sebagai berikut:
1)      Kekuatan niat dan berpandangan positif
2)      Menjalin rasa dan saling pengertian
3)      Keriangan dan ketakjuban
4)      Mau mengambil resiko
5)      Menumbuhkan rasa saling memiliki
6)      Menunjukkan rasa saling memiliki
7)      Menunjukkan keteladanan
Penelitian menunjukkan, bahwa suasana kelas adalah penentu psikologis utama yang mempengaruhi kegiatan belajar mengajar pada dasarnya kelas adalah arena belajar yang dipengaruhi oleh emosi, itu sebabnya disarankan agar guru berupaya menciptakan suasana kelas melalui keenam aspek diatas. Niat kuat seorang guru dalam mengajar ditentukan oleh pandangan positif guru dan citranya tentang kemampuan siswa. Keyakinan guru tentang potensi dan kemampuan semua siswa untuk belajar dan berprestasi akan menentukan keberhasilan siswa itu sendiri. Karena itu, aspek keteladanan mental guru berdampak besar terhadap iklim belajar dan pemikiran belajar, karena siswa memiliki perasaan dan sikap yang turut mempengaruhi proses belajar. Selain itu, guru juga dituntut mengetahui karateristik emosional siswa, karena dengan memahami karateristik emosional siswa dapat membantu mereka mempercepat proses belajar. Guru juga harus memiliki kemampuan untuk memotivasi siswa, mengetahui dan mengahargai kemampuan yang dimiliki siswa, dan melakukan penghargaan terhadap setiap upaya yang telah dilakukan oleh siswa. Penghargaan yang dimaksud, bukan hanya berupa material, tetapi dalam bentuk lain seperti pujian, menepuk pundak dan sebagainya. Guru perlu memprlakukan siswa sebagai manusia yang sederajat, mengetahui pikiran, perasaan, mengetahui apa yang menghambat memperoleh hal-hal yang mereka inginkan, berbicara dengan jujur dan menikmati kesenangan bersama mereka.
a.       Landasan yang kukuh
Setelah menciptakan suasana yang dapat mendorong siswa untuk belajar, langkah selanjutnya yang mesti dilakukan adalah menciptakan landasan yang kukug. Menegakkan landasan yang kukuh dalam pembelajaran kuntum dengan cara: mengkomunikasikan tujuan pembelajaran, mengukuhkan prinsip-prinsip keunggulan, meyakini kemampuan siswa, kesepakatan, kebijakan, prosedur dan peraturan, serta menjaga komunitas belajar tetap tumbuh dan berjalan.
Menurut Deporter dalam Sa’ud (2008:132) penetapan landasan dapat dimulai dari penetapan tujuan. Hendaknya dalam komunitas belajar antar pengajar dan pembelajar memiliki tujuan yang sama. Tujuan siswa adalah mengembangkan kecakapan dalam mata pelajaran, menjadi pelajar yang baik dan berinteraksi sebagai anggota komunitas dari masyarakat belajar, dan mengembangkan kemampuan lain yang dianggap penting. Sebaliknya tujuan dari pengajar adalah menciptakan agar siswa belajar yang cakap dalam mata pelajaran yang disampaikan, lebih baik dan mampu berinteraksi dalam masyarakat belajar. Dengan kesamaan tujuan, maka upaya yang dilakukann akan memiliki kesamaan sehingga ada kesesuaian antara apa yang harus dilakukan siswa dengan apa yang diinginkan guru. Kedua hal ini akan menjadi prinsip yang dikembangkan dalam komunitas belajar. Pembelajaran kuantum memiliki delapan kunci sukses yang dikembangkan, yaitu integritas, kegagalan sebagai kunci kesuksesan, bicara dengan niat yang baik, hidup saat ini, komitmen, tanggung jawab, sikap luwes dan keseimbangan.
Landasan lain yang dijelaskan adalah keyakinan terhadap kemampuan diri dan kemampuan siswa. Keyakinan atas kemampuan mengajar dan kemampuan siswa belajar akan menimbulkan hal-hal yang menakjubkan. Setiap kesepakatan, kebijakan, prosedur, dan peeraturan harus dilaksanakan bersama untuk memenuhi kebutuhan otak tentang struktur positif yang terarah. Berdasarkan landasan diatas setiap guru diharapkan dapat menjaga komunitas belajar dan membantu siswa yang mengaitkan pelajaran dengan gambaran masa depan mereka.
b.      Lingkungan yang mendukung
Lingkungan kelas akan berpengaruh terhadap kemampuan siswa dalam memusatkan perhatian dan menyerap informasi sebanyak-banyaknya. Dengan demikian, dalam pembelajaran kuantum guru memiliki kewajiban menata lingkungan yang dapat mendukung situasi belajar dengan cara: mengorganisasikan dan memanfaatkan lingkungan sekitar, menggunakan alat bantu yang mewakili satu gagasan, pengaturan formasi siswa, pemutaran musik yang sesuai dengan kondisi belajar.
Penggunaan poster dalam lingkungan kelas dapat menampilkan materi pelajaran yang visual. Poster afirmasi dapat menguatkan dialog internal siswa. Alat bantu belajar dapat manhidupkan gagasan abstrak dan memberikan pengalaman-pengalaman langsung. Meja belajar atau bangku dan kursi harus dapat diubah-ubah agar dapat berfokus pada tugas yang dihadapi. Musik membuka kunci keadaan belajar yang optimal dan membantu menciptakan asosiasi. Pengorkestrasian unsur-unsur dalam lingkungan sangat lebih baik.
c.       Perancangan pengajaran yang dinamis
Guru dapat memasuki dunia siswa dalam proses pembelajaran melalui perancangan pembelajaran. Disini diperlukan kemampuan guru memasuki dunia siswa baik sebelum maupun saat berlangsungnya pembelajaran dapat membawa sukses pembelajaran, karena membantu guru menyelesaikan pembelajaran lebih cepat, lebih melekat dan lebih bermakna dengan hasil belajar yang memuaskan. Pembelajaran kuantum memberikan beberapa kiat tentang cara menjalin mitra dengan siswa, sehingga guru merancang pembelajaran bermula kelompk besar, dilanjutkan dengan belajar dalam kelompok kecil, diakhiri dengan belajar secara perorangan. Berdasarkan strategi diatas, maka kiat kerangkan perancangan pembelajaran kuantum dilaksanakan sebagai perpaduan yang singakat dengan TANDUR yakni Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan.
4.             Mengorkestrasikan Kesuksesan Belajar Melalui Konten/Isi
Menurut Sa’ud (2008:134) dimensi konten/isi dalam pembelajaran kuantum dikelompokkan menjadi empat bagian, dimana dua bagian menkaji kemampuan guru dalam melakukan presentasi dan fasilitasi, dua bagian lainnya memberikan tips tentang kiat-kiat keterampilan belajar siswa dan keterampilan hidup.
a.             Mengorkestrasikan presentasi prima
Kemampuan guru mengorkestrasikan presentasi prima merupakan kemampuan berkomunikasi dengan menekankan interaksi sesuai dengan rancangan pembelajaran yang ditetapkan. Guru mengajarkan keterampilan hidup di tengah-tengah keterampilan akademis, mengembangkan aspek fisik, mental, dan spiritual para siswa dengan memperhatikan kualitas interaksi antar siswa, antar siswa dengan guru, dan antar siswa dengan kurikulum. Dalam berkomunikasi dengan siswa, guru menyesuaikan pesan atau materi pelajaran dengan modalitas utama para siswanya, karena itu guru harus menguasai prinsip-prinsip komunikasi secara visual, auditorial, dan kinestik yang diyakini sebagai jalan menuju kesuksesan belajar. Ketika guru mengajar, memberikan pengarahan, menata konteks, memberikan umpan balik, hendaknya dilaksanakan empat prinsip komunikasi, yaitu: memunculkan kesan yang diinginkan, mengarahkan perhatian, bersifat mengajak dan tepat sasaran. Memunculkan kesan adalah hal penting dalam belajar karena membantu otak membuat citra tentang apa yang dipelajari melalui asosiasi. Mengarahkan fokus perhatian juga penting karena dalam komunikasi otak memiliki kemampuan menyerap banyak informasi dalam setiap waktu dari pesan-pesan yang diberikan guru. Jika guru salah mengarahkan perhatian, maka informasi penting dapat menjadi tak tersadari. Bersifat mangajak pada prinsipnya berbeda dengan prinsip perintah yang menunjukkan dominasi guru. Ajakan itu lebih menimbulkan asosiasi positif tentang kebersamaan dan kerjasama secara kolaborasi untuk menghindari asosiasi negatif terhadap dinamikiaguru. Namun ajakan tersebut harus bersifat spesifik ditujukan langsung inti tujuan pembelajaran. Dalam berkomunikasi non verba sama ampuhnya dengan komunikasi verbal. Komunikasi non verbal yang harus diperhatikan guru adalah kontak mata, ekspresi wajah, nada suara, gerak tubuh, dan sosok (postur).
b.             Megorkestrasikan fasilitas yang elegan
Mengorkestrasikan fasilitas berarti memudahkan interaksi siswa dengan kurikulum. Ini berarti juga memudahkan partisipasi siswa dalam aktifitas belajar sesuai dengan yang diinginkan dengan tingkat ketertarikan, minat, fokus, dan partisipasi yang optimal. Pembelajaran kuantum menawarkan beberapa strategi untuk melakukan fasilitasi yaitu: menerapkan prinsip KEG (Know it, Explain it, Get it and Give feedback), model kesuksesan dari sudut pandang fasilitator, membaca pendengar, mempengaruhi melalui tindakan, menciptakan strategi berfikir, dan tanya jawab belajar. Fasilitas KEG sebagai strategi fasilitasi bertujuan untuk mempertahankan siswa belajar tetap pada jalur dengan minat yang tinggi. Strategi ini dilakukan dengan: Pertama, mengetahui visi pembelajaran dan bentuk prilaku yang diharapkan dalam belajar dengan jelas. Kedua, jelaskan hasilnya melalui komunikasi. Ketiga, dapatkan hasilnya pada setiap segmen belajar dan berikan feedback yang memuaskan.
Fasilitas harus mampu mneghantarkan siswa bergerak dari zona nyaman ke zona kuranng nyaman dengan siswa tetap nayaman, pembelajaran kuantum ini menhendaki: Pertama, guru harus memberikan gambaran keseluruhan pelajaran yang memungkinkan siswa mengaitkan dengan pengalaman masa lalu dan prediksi masa depan, tumbuhkan kegairahan siswa memalui rasa ingin tahunya. Kedua, berilah pengenalan pertama pambelajaran melalui penggunaan multi sensori untuk merangsang multi kecerdasan siswa. Ketiga, potonglah informasi ke dalam segmen-segmen yang mudah dipelajaari untuk setiap segmen. Jangan lupa untuk menerapakan strategi belajar dari kelompok besar ke kelompok kecil dan diakhiri dengan belajar perorangan. Fasilitas dengan membeca pendengar, berarti guru membaca keadaan siswa belajar untuk tetap mempertahankan konsentrasi belajar dengan minat optimal. Fasilitas mempengaruhi prilaku melalui tindakan dimaksudkan untuk menangkap perhatian siswa dalam belajar dan mengubah arahnya ke tugas atau tujuan belajar selanjutnya. Untuk ini beberapa tindakan verbal maupun nonverbal dapat dilakukan. Fasilitas menciptakan strategi berfikir bertujuan membantu siswa mempermudah belajar dilakukan dengan cara memberikan ragam pertanyaan kepada siswa dengan maksud memperoleh respon, memberi dorongan dan menghargai serta mengakui partisipasi siswa dalam melatih keterampilan berfikir siswa.



c.             Mengorkestrasikan keterampilan belajar dan keterampilan hidup
Dalam pemeblajaran kuantum, keterampilan belajar dapat membantu siswa mencapai tujuan belajar dengan efisien dan cepat, denga tetap mempertahankan minat belajar, karena belajar berlangsung secara terfokus tetapi santai. Dalam membantu siswa siswa mengorkestrasikan keterampilan belajar, pembelajaran kuantum menekankan empat strategi berikut: Memanfaatkan gaya belajar, keadaan prima untuk belajar, mengorganisasikan informasi, dan memunculakan potensi siswa. Belajar di kelas perlu memnfaatkan gaya belajar masing-masing siswa, yakni gaya belajar visual, auditorial, kinetik. Untuk mengetahui gaya belajar masing-masing siswa, guru dapat memberikan tes gaya balajar. Seterlah mengetahui gaya belajar masing-masing, guru dapat menyesuaikan rancangan pembelajaran denga gaya belajar tesebut. Gaya belajar visual akan berhasil dalam belajar jika siswa banyak membuat simbol dan gambar dalam catatannya. Siswa dengan gaya belajar visual dapat mengkap isi pelajaran dengan baik melalui membaca cepat secara keseluruhan yang membantunya mendapatkan gambaran umum. Siswa dengan gaya belajar auditorial dapat belajar melalui mendengarkan kuliah, contoh-contoh model, ceramah, ceritera dan mengualng informasi. Biasanya siswa belajar auditorial menyenangi belajar dengan mendengarkan musik karena itu, mereka harus belajar kedalam bentu lagu yang sudah mereka kenal. Siswa kinestik menyukai proyek terapan, praktik laboratorium, demonstrasi, simulasi dan bermain peran.
Belajar yang optimal adalah belajar dalam keadaan prima. Kondisi prima ini dapat terjadi ketika ada kesesuaian antar gerak, tumbuh, pikiran, dan perasaan dalam kondisi terfokus dan menyenangkan. Karena itu pembelajaran kuantum mneyarankan srategi SLANT dan keadaan alpha kepada siswa dalam mengikuti proses pembelajaran diatas. Strategi SLANT merupakan singkatan dari Sit Up In The Chair  (duduk tegak dikursi), Lean Forward (condong ke depan), Ask Question (bertanya), Node their hads (menganggupan pelaku), Talk to Their Teacher (berbicara dengan guru) tubuh tegak agak condong ke depan mengindikasikan tubuh dalam keadaan semangat belajar, sedangkan unsur ANT mengindikasikan partisioasi aktif siswa dalam belajar yang dapat memberi simulasi kepada guru untuk lebih bergairah mengajar. Adanya upaya take and give antar guru dan siswa akan akan meningkatkan interaksi belajar yang dapat mengubah energi belajar lebih berbahaya. Belajar di sekolah bukan semata-mata sebagai kegiatan belajar secara akademik. Siswa perlu mempelajari hidup (life skill), dan keterampilan sosial (social skills).
Sumber :
Sa’ud, Udin Syaefudin. 2008. Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.